Caracas – Sedikitnya 100 orang tewas selama operasi militer Amerika Serikat (AS) yang berujung penangkapan Presiden Nicolas Maduro 3 Januari 2026. Sementara, puluhan orang lainnya mengalami luka-luka akibat operasi tersebut.
Otoritas Venezuela sebelumnya mengungkapkan sedikitnya 24 personel militernya tewas. Terdapat lima personel militer berpangkat Laksamana yang tewas akibat serangan AS tersebut. Namun, Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello dalam pernyataan terbarunya melalui siaran televisi pemerintah Venezuela, seperti dilansir AFP, Kamis (8/1/2026), mengungkapkan bahwa jumlah total korban tewas akibat serangan militer AS itu mencapai 100 orang. Meskipun demikian, ia tidak merinci apakah jumlah itu gabungan korban militer dan sipil, atau korban sipil saja. Sementara, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, terluka dalam penangkapan oleh pasukan AS tersebut.
Laporan terpisah oleh para pejabat AS, seperti dikutip media The Washington Post, 75 hingga 80 orang tewas dalam operasi militer untuk menangkap Maduro di Caracas. Angka itu mencakup tentara Venezuela, personel keamanan Kuba, dan warga sipil yang terjebak dalam pertempuran.
Selama 12 tahun kekuasaannya, Maduro memilih untuk menggunakan tentara-tentara Kuba yang terlatih untuk melindungi dirinya. (mr/*)



