Gaya Hidup

Apakah Dampak Makan Gorengan Bagi Tubuh Saat Berbuka Puasa? Ini Penjelasan Ahli Gizi

×

Apakah Dampak Makan Gorengan Bagi Tubuh Saat Berbuka Puasa? Ini Penjelasan Ahli Gizi

Sebarkan artikel ini
Takoyaki, menu gorengan khas Jepang. (foto: rini)

Gorengan masih menjadi salah satu makanan favorit saat berbuka puasa. Bagi kebanyakan kita masyarakat Indonesia, belum lengkap menu berbuka jika belum ada menu gorengan. Bahkan, yang sering terjadi, selain menu manis-manis seperti es dan kolak, gorengan menjadi hidagan wajib di meja makan saat berbuka.

Namun, kebiasaan mengonsumsi gorengan saat berpuasa seharian tidak dianjurkan dan bahkan sebaiknya dihindari. Ahli gizi dari IPB University, Dr dr Karina Rahmadia Ekawidyani, MGizi menjelaskan, gorengan mengandung lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi akibat proses penggorengan.

Dalam program IPB Pedia yang tayang di YouTube IPB TV, Dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University itu mengatakan, mengkonsumsi gorengan saat perut dalam keadaan kosong setelah seharian berpuasa, berisiko mengganggu kesehatan pencernaan.

Menurutnya, lemak merupakan zat gizi yang lebih sulit dicerna dibandingkan karbohidrat karena tinggi lemak. Proses mencerna lemak lebih lama dibandingkan dengan mencerna karbohidrat.

Dalam kondisi setelah berpuasa seharian, sistem pencernaan berada dalam kondisi istirahat cukup lama. Karena itu, jika langsung menerima makanan tinggi lemak, sistem pencernaan harus bekerja lebih berat.

Selain itu, menurutnya, konsumsi gorengan saat perut kosong dapat memicu peningkatan asam lambung. Terutama pada orang yang memiliki riwayat gangguan lambung. Belum lagi konsumsi lemak berlebih secara terus-menerus berisiko menumpuk dalam tubuh dan dapat memicu obesitas.

“Meski demikian, gorengan tidak sepenuhnya dilarang saat berbuka puasa. Boleh, tapi dengan catatan, diberi jeda waktu dan tidak berlebihan,” katanya.

Ia menyarankan, selain membatasi jumlah, gorengan sebaiknya dikonsumsi setelah perut diisi terlebih dahulu dengan makanan ringan atau makanan utama. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengontrol konsumsi gorengan saat berbuka puasa, tetapi juga dalam keseharian. Menurutnya, kebiasaan makan yang lebih sehat akan berdampak positif bagi kualitas kesehatan di masa mendatang. (*)